Jumat, 15 Agustus 2025

Perempuan dan Generasi Muda dalam Pengelolaan Perhutanan Sosial di Kabupaten Madiun


Berita

Pada 3-6 Agustus 2025, telah dilaksanakan Studi Peran Perempuan dan Generasi Muda dalam Pengelolaan Hutan dan Usaha Perhutanan Sosial di Kabupaten Madiun, Provinsi Jawa Timur. Kegiatan ini bertujuan untuk melihat dan menganalisa sudah sejauh mana peran perempuan dan generasi muda dalam pengelolaan hutan dan usaha pada perhutanan sosial. Studi dilakukan oleh Tenaga Ahli Internasional, Emmanuelle Andaya (Nola), yang didampingi oleh Perwakilan dari Project Executing Agency (PEA) Forest Programme V (FP V), Wahyu Trimurti, National Coordinator FP V, Desy Ekawati, dan Tim.


Kegiatan pertama dilakukan di Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Madiun dengan agenda koordinasi persiapan dan Forum Group Discussion (FGD) dengan para dinas terkait. Kepala CDK Madiun, Dwijo Saputro, mengatakan pada saat ini pemerintah daerah mendukung peran perempuan di sektor kehutanan. Lebih lanjut, Dwijo mengatakan bahwa jika peran perempuan dapat dioptimalkan, peran pemberdayaan masyarakat dapat meningkat juga, Sehingga harapannya peningkatan ekonomi di keluarga dapat meningkat. Dwijo menambahkan bahwa studi yang akan dilakukan nanti berguna untuk mencari apa yang bisa dioptimalkan dari peran perempuan sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan.


Pada FGD ini juga dihadiri langsung oleh Kepala Dinas Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pemerintah Kabupaten Madiun, yang mengatakan bahwa beliau tertarik dengan studi ini, karena dapat berhubungan dan berkoordinasi langsung dengan instansi terkait khususnya dalam membangun sinergi program dalam peningkatan peran pemberdayaan perempuan di Kabupaten Madiun .


Selepas kegiatan FGD, tim mengunjungi KPS Jatimulyo yang berada di Desa Wonoasri, Kecamatan Wonoasri. KPS Jatimulyo sebagian besar perempuannya terlibat dalam pengelolaan perhutanan sosial. Terdapat Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Sekar Wijaya Wilis yang semua anggotanya perempuan, KUPS ini mengelola HHBK seperti pengolahan umbi gadung. Umbi gadung diambil para ibu dari kawasan hutan areal perhutanan sosial kelompoknya, dengan pengolahan yang tepat umbi yang memiliki racun (bila tidak diolah dengan tepat) menjadi keripik panganan lokal. Kedepannya, akan dikembangkan juga pengelolaan jahe. Masih belum banyak inovasi yang dilakukan karena SDM yang masih rendah dan kelompok belum memiliki pendamping perhutanan sosial. Selain itu, istri dari Ketua KPS ini memulai membuat bank sampah yang beranggota perempuan dan terdapat usaha pengolahan keripik yang belum berjalan secara maksimal.


Keesokan harinya, tim melanjutkan kunjungannya ke KPS Wilis Sejahtera di Desa Bodag, Kecamatan Kare. Terdapat  beberapa hasil hutan bukan kayu yang menjadi prioritas produk olahan di Desa Bodag, di antaranya hasil kopi robusta yang saat ini sudah di export ke Belanda, selain itu juga terdapat hasil unggulan coklat dan akan menargetkan durian. Lembaga Desa ini beranggotakan 174 orang dengan 12 orang anggota wanita. Terdapat 24 hektar kebun kopi di Desa Bodag, namun terkendala oleh alat masih manual dan belum mampu untuk membeli alat yang modern. Selain itu juga terkendala lokasi kebun yang jauh dari pemukiman dan tidak bisa dilalui oleh kendaraan. Pada KPS ini, proses produksi kopi 80% dilakukan oleh perempuan. Kedepannya Ketua KPS LD Wilis Sejahtera Bapak Imam menyampaikan, untuk kedepannya peran perempuan juga sudah mulai diarahkan ke bidang peternakan, olahan anyaman dan inovasi hasil hutan lainnya. Para perempuan juga akan diundang dan dilibatkan dalam pertemuan-pertemuan KPS dan KUPS.