Rabu, 13 Agustus 2025

Perempuan dan Generasi Muda dalam Pengelolaan Perhutanan Sosial di Kabupaten Sikka


Berita

Pada 19-25 Juli 2025, telah dilaksanakan Studi Peran Perempuan dan Generasi Muda dalam Pengelolaan Hutan dan Usaha Perhutanan Sosial di Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Kegiatan ini bertujuan untuk melihat dan menganalisa sudah sejauh mana peran perempuan dan generasi muda dalam pengelolaan hutan dan usaha pada perhutanan sosial. Studi dilakukan oleh Tenaga Ahli Internasional, Emmanuelle Andaya (Nola), yang didampingi oleh Koordinator Provinsi Forest Programme V (FP V) NTT, Akusulu Samuel, Konsultan FP V NTT, Aloysius Tao, Kepala Kesatuan Pengelola Hutan (KPH), Hery Siswadi, Koordinator Pendamping Perhutanan Sosial Kab. Sikka, Alfons Hery, dan Tim dari National Project Management Unit (NMPU).


Pada hari pertama, 19 Juli 2025, Tim melakukan diskusi awal untuk persiapan kegiatan studi peran perempuan dan generasi muda dalam pengelolaan hutan dan usaha masyarakat. Diskusi persiapan kegiatan diikuti oleh Nola, Akusulu Samuel, Aloysius Tao, Alfons Hery, dan perwakilan dari NPMU. Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi lanjutan pada 20 Juli 2025, untuk membahas mekanisme Forum Group Discussion (FGD) yang akan dilakukan di desa-desa yang akan dikunjungi.


Setelah itu, pada 21 Juli 2025, tim melakukan kunjungan ke Kantor Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Sikka untuk melakukan wawancara dengan Kepala Bapperida, Margaretha M.Da Maga Bapa, S.T., M.Eng. Wawancara ini bertujuan untuk memperoleh perspektif dari sisi pemerintah daerah terkait dengan kebijakan daerah, tantangan, serta peluang penguatan peran perempuan dan generasi muda dalam pengelolaan hutan dan pengembangan usaha perhutanan sosial. Lalu, kegiatan dilanjutkan dengan mewawancarai Kepala KPH Kabupaten Sikka, untuk memperoleh informasi mengenai program kehutanan yang terkait dengan penguatan peran perempuan dan generasi muda.


Tidak sampai disitu, tim melanjutkan kegiatan dengan berdiskusi bersama pelaku usaha, Ibu Ise, yang merupakan pendiri Sibakloang Coffee. Melalui diskusi ini, diketahui bahwa Ibu Ise sudah melakukan beberapa pendampingan terhadap petani kopi di beberapa daerah di Kabupaten Sikka. Hal ini menarik karena Ibu Ise dapat menjadi role model untuk para petani dari wilayah FP V. Selain itu Ibu Ise juga membuka peluang untuk bekerja sama dengan kelompok untuk membantu dalam hal peningkatan kapasitas dan membeli hasil komoditi seperti kopi dan jahe dari Kelompok Perhutanan Sosial. Kegiatan ditutup dengan wawancara terhadap beberapa pelaku perempuan, seperti dari NGO Yayasan Bambu Lingkungan Lestari, serta para Pendamping Perhutanan Sosial dari FP V, untuk mengetahui wawasan dan pengalaman mereka, sebagai perempuan, terkait dengan pendampingan dan pemberdayaan komunitas atau masyarakat.


Pada 22-24 Juli 2025, tim mulai melakukan diskusi dengan Kelompok Perhutanan Sosial (KPS) di desa-desa yang telah ditetapkan sebelumnya, diskusi ini bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh peran perempuan dan generasi muda di masing-masing KPS. Diskusi dilakukan dengan cara partisipatif, di mana semua pihak dalam KPS dapat terlibat secara aktif dan diberikan ruang untuk menyampaikan pandangan-pandangannya. Kegiatan diskusi ini dilakukan di 5 KPS, yaitu:

  1. KPS Tion Toma, Desa Wogalirit, Kecamatan Doreng;

  2. KPS Watu Wulun, Desa Werang, Kecamatan Waiblama;

  3. KPS Buli Uher, Desa Ilin Medo, Kecamatan Waiblama;

  4. KPS Tieng Totan, Desa Lewomada, Kecamatan Talibura;

  5. KPS Hoder Ruha Nukak, Desa Wairbleler, Kecamatan Waigete.


Dari diskusi tersebut, tim dapat mengidentifikasi beberapa kekuatan, hambatan, serta peluang yang dapat membantu meningkatkan peran dan kontribusi perempuan dan generasi muda dalam pengelolaan hutan dan usaha perhutanan sosial.


Setelah itu, pada 25 Juli 2025, tim melakukan diskusi di Kantor Bapperida, diskusi dihadiri oleh berbagai pihak yang terlibat dalam pengelolaan hutan dan pengembangan usaha, termasuk perangkat daerah, pelaku usaha, dan masyarakat. Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Bapperida, Margaretha berharap bahwa rangkaian kegiatan yang telah dilakukan dapat memberikan output yang berkelanjutan, dan kedepannya, program dapat dilakukan dengan lebih baik lagi dengan keterlibatan para pihak yang harus ditingkatkan. Margaretha juga berharap bahwa kegiatan yang dilakukan bisa mengatasi masalah kemiskinan di Sikka, karena berdasarkan data yang ada, jumlah kepala keluarga perempuan juga mendominasi dalam kategori masyarakat miskin yang juga terlibat dalam pengelolaan hutan, sehingga diharapkan, FP V bisa memberikan solusi untuk keterlibatan perempuan dalam pengelolaan hutan yang berkelanjutan.


Setelah berdiskusi, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan hasil temuan dari studi yang telah dilakukan sebelumnya. Setelah pemaparan hasil studi selesai, para peserta diskusi melakukan workshop atau lokakarya untuk menjawab tantangan dalam peningkatan peran dan kontribusi perempuan dan generasi muda dalam pengelolaan hutan dan usaha perhutanan sosial.


Terakhir, rangkaian kegiatan ditutup dengan mengunjungi salah satu KPS yang diketuai oleh perempuan, yaitu KPS Busi Bekor, Desa Wolokoli, Kecamatan Bola. Kelompok ini bukan merupakan KPS yang difasilitasi oleh FP V, KPS ini didampingi oleh penyuluh dari KPH Kabupaten Sikka. Dalam kunjungan ini, tim juga melakukan diskusi dengan anggota kelompok untuk mengetahui sudah sejauh mana peran perempuan dan generasi muda dalam mengelola KPS. KPS ini memiliki beberapa produk, salah satunya adalah keripik talas yang dijual di sekolah-sekolah lokal.